Rabu, 31 Juli 2013

Internet Sehat Bikin Hebat


Saat ini perkembangan teknologi informasi yang ditandai dengan boomingnya internet memang sulit dibendung. Dan ini membawa perubahan yang sangat besar pula bagi kehidupan manusia. Kini kita dibuat mudah dalam memperoleh informasi maupun dalam mengetahui berbagai peristiwa di belahan bumi manapun sekarang dengan adanya internet. Begitu pula dalam hal komunikasi maupun transaksi jual beli bisa dilakukan tanpa harus beranjak dari kursi atau tempat tidur anda. Seolah-olah dunia saat ini sudah dalam genggaman tangan kita.

Tapi bagaimanakah dampak yang timbul dari boomingnya internet di negeri kita ini? Yang jelas selain berdampak positif bagi perkembangan bangsa ini, disisi lain dipastikan ada juga dampak negatifnya. Sebagai contoh, ketika video porno beberapa artis negeri ini beredar  di duniamaya, berapa juta orang yang mengakses dan mengunduhnya lewat internet? Kita tak bisa menutup mata dan telinga akan hal ini. Dampak buruk inilah yang paling dirisaukan oleh kita-kita terutama para orangtua yang peduli akan nasib bangsa ini kedepannya. Semua informasi apapun bisa kita peroleh di internet termasuk informasi yang tidak layak di konsumsi. Salah satunya informasi bermateri kekerasan dan pornografi itu tadi. Internet tidak hanya bisa diakses lewat komputer saja tapi sekarang hampir semua produk telepon genggam yang beredar saat ini sudah dibenamkan fitur browser atau peramban web yang bisa dengan mudah mengakses internet.

Mari kita lihat di kehidupan sehari-hari di lingkungan kita, bagaimana sekarang anak-anak Sekolah Dasar saja sudah membawa telepon genggam disaku mereka. Mungkin tidak salah juga para orang tua memberikan telepon genggam itu pada anak-anak mereka. Tohsekarang harga sebuah telepon genggam dengan fitur yang komplit saja begitu murah. Dan alat komunikasi itu diberikan supaya mereka para orang tua bisa memantau kegiatan anaknya di luar rumah. Di lihat dari segi efektifitas memang baik, tapi sejauh mana para orang tua mengawasi anak-anak mereka yang masih Sekolah Dasar  itu dalam memfungsikan alat komunikasi ini? Seringkah mereka para orang tua melihat-lihat isi dari telepon genggam anak-anak mereka? Ya, sebaiknya sih serajin mungkin, sebab dengan adanya teknologi peramban web dan teknologi bluethooth yang sudah dibenamkan di telepon genggam saat ini, anak-anak itu bisa dengan mudah mengunduh dari internet dan berbagi file, baik itu berupa gambar maupun video dengan teman-teman mereka. Dan yang di khawatirkan adalah mereka berbagi file yang bermateri kekerasan dan pornografi yang tidak pantas dilihat oleh mereka. Sebab mereka belum bisa mem-filter mana yang baik dan mana yang buruk.

Belum lagi sekarang bisnis warnet sedang menjamur di negeri kita. Terutama di perkampungan di kota-kota besar, seiring mulai murahnya biaya akses internet. Mungkin bisnis ini menjanjikan keuntungan lebih besar pada saat ini karena dalam lingkup satu RW saja bisa ada 3 atau 4 warnet berdiri. Saya ambil sampel ini di Bandung, dimana saya bertempat tinggal. Bisa dibayangkan berapa banyak dalam satu lingkup kelurahan, kecamatan atau lingkup yang lebih besar lagi yaitu dalam satu kota. Anda mungkin bertanya, mengapa saya begitu risau dengan begitu menjamurnya warnet-warnet ini? Bukankah ini pertanda suatu kemajuan bahwa saat ini kita dimudahkan dalam mengakses berbagai macam informasi yang kita butuhkan. Memang benar dan saya setuju sekali dengan pendapat itu. Tapi pernahkah kita melihat dan coba masuk untuk mengetahui siapa sebenarnya pengakses internet terbesar di warnet-warnet itu?

Lagi-lagi pengakses terbesar adalah anak-anak!! Ya, dan dari 10 warnet yang saya singgahi, hampir 60 persen mungkin lebih pengakses internet adalah anak-anak  Sekolah Dasar. Mengapa mereka begitu antusias? Apa yang mereka akses?  Selain game online tentunya, juga adalah jejaring sosial Facebook. Selebihnya Youtube, Twitter dan situs-situs yang kita tidak tahu apa lagi yang mereka kunjungi. Ini mungkin yang sedikit saya tahu, tapi ada kekhawatiran lain saya yaitu hampir dari semua warnet-warnet itu dibuat bersekat-sekat. Hingga sesama pengguna tidak bisa saling melihat.Memang lebih nyaman, tapi sungguh tidak sehat bagi anak-anak pengakses internet. Bagaimana kalau yang diakses anak-anak itu adalah situs porno? Karena tak ada pengawasan yang ketat dari pemilik warnet memungkinkan mereka bisa saja mengakses situs-situs porno itu.

Oleh sebab itu dibutuhkan tanggungjawab moral bagi para pemilik warnet untuk sesegera mungkin mengubah bentuk sekat-sekat itu menjadi lebih terbuka, supaya mereka bisa mengawasi anak-anak generasi penerus bangsa ini dalam mengakses internet. Dan Ini cenderung lebih baik, karena walau bagaimanapun juga internet yang sehat bisa menjadikan anak-anak itu menjadi pribadi-pribadi yang hebat yang nantinya berguna untuk kemajuan bangsa ini ke depan.
Selain itu tanggung jawab terbesar ada pada orangtua, guru dan negara ini tentunya. Sejauh mana kepedulian para orang tua mengawasi anak-anak mereka diluar rumah terutama dalam kegiatan ber-internet. Dan juga para guru, sejauh mana mereka melekterhadap internet. Jangan sampai pepatah “Guru kencing berdiri, murid kencing berlari” berubah artinya dijaman sekarang ini menjadi “Guru tetap berdiri statis tak ada kemajuan dalam hal ilmu dan teknologi, sedangkan muridnya berlari kencang meninggalkan jauh dibelakang gurunya dalam memahami ilmu dan teknologi”.  Sungguh ironis kalau hal ini terjadi dan semoga ini bukan realita yang terjadi saat ini.

Sebagai benteng paling utama sebenarnya ada pada negara yang diwakili oleh pemerintahan saat ini. Sebagai regulator,  sejauh mana keseriusannya dalam hal mengawasi dan memblok situs-situs porno serta situs-situs konten berbahaya lainnya. Karena dalam sebuah artikel yang pernah saya baca, Indonesia termasuk dalam sepuluh besar negara pengakses internet dengan kata kunci xxxsex dan porn. Berlomba-lomba dengan negara Pakistan, Afrika Selatan, Bolivia, Turki, India, Vietnam dan Kroasia. Sungguh mengerikan sekali bukan? Mau dibawa kemana negara ini bila generasi penerus bangsa ini hancur hanya karena menerapkan cara ber-internet yang tidak sehat?
Tidak cukup hanya berteori, tetapi mari kita beraksi agar anak-anak kita tidak terkontaminasi oleh hal- hal yang bersifat tidak mendidik, yang akan menyebabkan mereka menjadi generasi penerus bangsa yang kerdil, yang terus menerus terjajah secara politik, ekonomi maupun budaya oleh bangsa-bangsa lain.
Ada sedikit saran bagi orangtua, guru atau para pendidik juga semua orang di negeri ini yang peduli pada generasi penerus bangsa ini agar mereka tidak terjerumus dalam hal-hal yang tidak sehat terutama dalam mengakses internet.

Untuk Para Orang Tua.

Hendaklah sesering mungkin untuk mengawasi mereka, bila perlu mendampingi mereka bila ke warnet dan jadilah bagian dalam ber-internet ria mereka. Sehingga kita jadi tahu apa saja yang mereka akses dan dengan siapa saja mereka berinteraksi di duniamaya. Kita tidak boleh otoriter dalam hal ini melarang anak-anak kita mengakses internet, tetapi arahkan mereka untuk ber-internet secara sehat. Karena walau bagaimanapun juga internet lebih banyak positifnya dibanding sisi negatifnya. Tinggal bagaimana kita mengelola dan mengarahkan mereka. Oleh sebab itu kita juga dituntut untuk melek pula dalam hal ini. Jangan sampai tidak tahu sama sekali. Bagaimana bisa efektif pengawasan kita kepada mereka kalau kita buta dalam hal teknologi informasi ini?

Dengan internet kita jadi banyak tahu, karena semua ilmu pengetahuan sekarang bisa dengan mudah didapat hanya dengan mengetikkan kata kunci di mesin pencari semacam GoogleYahoo SearchbingAsk dan lain-lain. Anak-anak kita tidak perlu membeli banyak buku untuk mengetahui tentang sesuatu ilmu pengetahuan. Karena semuanya bisa didapatkan secara gratis di duniamaya walaupun ada juga yang berbayar. Mereka lebih mudah mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru-guru mereka.
Sebagai salah satu bentuk pengawasan, cobalah menjadi teman bermain mereka di duniamaya, jika mereka sudah terlanjur mempunyai akun di jejaring sosial semacamFacebook. Walaupun sebenarnya anak-anak dibawah umur tidak diperbolehkan. Tapi kenyataannya memang lain. Karena anak-anak sekarang memang cerdas. Mereka bisa dengan mudah mengakali usia mereka untuk bisa menjadi Facebooker. Hebatnya lagi kadang mereka mempunyai lebih dari satu akun di Facebook. Padahal untuk membuat akun Facebook dibutuhkan akun email, dan mereka dengan gampang pula membuat akun email yang terkadang bahasa yang digunakan cukup sulit dimengerti apalagi oleh mereka yang masih anak-anak.

Add atau jadikan teman-temannya menjadi teman anda juga di Facebook atau jejaring sosial lain. Sehingga anda lebih mudah mengawasi anak-anak anda, dan mengetahui bagaimana cara mereka bergaul di duniamaya. Bila perlu ikut berkomentar bila anak-anak anda atau teman-temannya meng-update status. Ini akan lebih menyenangkan bagi anak-anak anda dan juga anda tentunya. Dengan begitu anda tidak pernah putus berkomunikasi dengan anak anda secara offline di dunia nyata maupunonline di duniamaya.

Anda bisa juga menanyakan tugas atau pekerjaan rumah anak anda pada teman-temannya yang sedang online dengan memanfaatkan fasilitas chat yang ada di Facebook atau di Instant Messenger. Karena untuk hal ini kita tidak perlu komputer, sebab sudah banyak aplikasi-aplikasi chatting yang bisa kita instal di telepon genggam kita , semacam nimbuzz, ebuddy, mig33 dll. Dan biaya untuk komunikasi duniamaya ini sangat murah, lebih murah dari sms sekalipun. Bahkan salah satu operatorseluler di negeri kita ini mematok harga paket perminggunya hanya 2000 rupiah saja untukchatting sepuasnya. Dengan segala kemudahan ini jadikanlah internet sebagai media multi fungsi yang sehat agar anak-anak kita kelak menjadi orang-orang yang hebat di bidang yang digelutinya di masa yang akan datang.

Untuk Para Guru Atau Para Pendidik.
Saya tidak sedang mendikte, karena saya tahu mungkin para guru lebih pintar dan cerdas dibanding saya yang hanya lulusan SLTA. Ini hanya bentuk berbagi pengalaman atau saling mengingatkan dalam kebaikan. Bukankah ini juga perintah Tuhan? Mohon maaf sebelumnya karena melihat dari pengalaman, ternyata banyak guru-guru terutama guru-guru Sekolah Dasar yang masih gaptek akan teknologi informasi khususnya internet. Mungkin ada yang berpikir ini tidak terlalu penting toh sudah cukup apa yang di pelajari atau yang akan diajarkan pada murid sudah ada standar bakunya pada buku panduan. Tapi melihat kenyataan saat ini para pelajar berlari lebih cepat dari gurunya dalam hal teknologi informasi. Dan sungguh tidak berimbang jika gurunya tidak berusaha mengimbangi apa yang sekarang di gandrungi para anak didiknya itu. Bagaimana bisa mengawasi anak didiknya dari bahaya-bahaya yang ditimbulkan dari mengaksesinternet, jika guru tidak melek internet?
Ya, saat ini sudah menjadi sebuah tuntutan yang wajib bagi guru atau para pendidik melek akan internetDengan begitu tidak ada jurang lagi yang memisahkan murid dengan gurunya dalam hal ini. Bila seorang guru paham akan internet, dia seyogyanya pasti tahu sisi negatif dari internet ini. Dan untuk mencegah anak didiknya mengakses konten-konten berbahaya, mungkin para pendidik ini bisa mengajarkan dan mengarahkan anak-anak didiknya untuk membuat sebuah blog. Tentunya seorang guru harus terlebih dahulu mempunyai blog atau weblog. Jadi para anak didiknya bisa tahu seperti apa sih blog itu.
Para guru bisa menuangkan ide, opini maupun tulisan-tulisan yang bermanfaat di blognya. Begitu pula anak didik bisa pula mengikuti gurunya menuangkan ide, opini, tips atau tulisan bermanfaat juga. Dan ini mengajarkan mereka untuk berbagi hal yang positif dengan guru maupun teman-teman lainnya di duniamaya lewat sebuah blog.
Blog bisa diisi apa saja tergantung kegemaran anak didik. Jika ia hobi bernyanyi, mungkin bisa menuangkan lirik-lirik lagu yang dia hafal dalam blognya dan bisa berbagi dengan orang lain yang mempunyai minat yang sama. Apabila anak didik hobi memasak, dia bisa menuangkan resep-resep masakan yang dia tahu dan berbagi dengan yang lain dalam sebuah blogDengan blog kita dimungkinkan untuk saling berbagi ide, pengalaman, pemikiran dan perasaan dengan orang lain. Dan masih banyak hal-hal positif dengan blog. Setidaknya ini bisa mencegah dan meminimalisir anak didik dari mengakses situs-situs berbahaya dan tidak layak.
Para guru atau pendidik bisa juga menjadi teman dalam jejaring sosial yang diikuti anak didiknya sehingga pengawasan dan komunikasi tidak putus walau diluar jam belajar.Jadilah seorang guru sekaligus teman bagi mereka, supaya para anak didik tidak merasa takut, tetapi malah menjadi lebih akrab. Sehingga proses belajar mengajar menjadi lebih menyenangkan bagi anak didik. Karena bisa dilakukan secara online diluar waktu pelajaran dan tidak terpaku hanya di sekolah saja namun juga bisa dimana saja karena internet tak mengenal batas.
Demikianlah sedikit saran sederhana dari saya. Semoga dengan berperannya kita semua dalam mewujudkan internet yang sehat, menjadikan anak-anak kita menjadi generasi penerus yang hebat.  Mari mulai hari ini kita ajarkan kepada anak-anak kita bagaimana ber-internet yang sehat. Karena nasib bangsa ini ada di pundak mereka. Nunggu kapan lagi?
Salam Merdeka !!


***Postingan ini dibuat tahun 2010 untuk keperluan lomba blog di blogdetik (sudah shutdown), jika ada yang sudah tidak relevan lagi harap maklum :)

Tidak ada komentar: